Minggu, 05 Juni 2016

Komodo #1

Setelah sekian lama nggak blogging, kali ini saya akan cerita tentang komodo. Well, sebenarnya bukan komodonya, tapi lebih ke teman saya yang beberapa minggu terakhir ini mengalami gejala obsessive compulsive disorder (OCD) terhadap binatang reptil satu itu.

Sebut saja namanya CND, orang Manado yang terdampar di Surabaya sudah dua tahun belakangan ini. Dia sangat Manado banget sampai-sampai setiap hembusan nafasnya beraroma cakalang fufu, padahal makanan kesukaannya adalah tahu. Hayo konn...

Kamis, 26 Mei 2016

Filosofi Misuh

Misuh, berasal dari kata "pisuh", artinya umpatan atau bahasa kerennya swearword. Misuh atau mengumpat adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan kita (atau hanya saya?) Setiap hati sedang panas, rasanya misuh adalah cara cepat melepas emosi. Makin "kotor" pisuhannya, makin plong rasanya. Karena itu orang yang vocabulary pisuhannya makin kaya, ia juga akan makin santai dalam menjalani hidup karena nggak ada beban emosi negatif dalam dirinya (ini sih teori ngawur saya.) Bersyukurlah kita sebagai orang Jawa Timur yang memiliki variasi pisuhan paling beragam, mulai dari anatomi tubuh manusia, penghuni kebun binatang, sampai pakaian dalam, bahkan yang asal-usulnya nggak terlacak lagi. Saya pun punya kata-kata misuh favorit.

Seperti kata saya tadi, misuh adalah cara cepat melepas emosi. Tapi itu nggak bisa optimal kalau kita setengah hati dalam melakukannya. Karena itu ada beberapa cara agar efek misuh menjadi optimal. Simak tips berikut:

Jumat, 25 September 2015

Inherent Risk of Friend Zone

Dalam teori Auditing, ada yang namanya inherent risk/risiko bawaan. Artinya, meskipun internal control perusahaan baik, sebuah akun memiliki risikonya sendiri terhadap salah saji, dikarenakan nature/sifat akun itu sendiri. Well, itu hanya basa-basi, kita nggak akan membahas Auditing kali ini.

Tapi mari kita petik hikmah dari teori Auditing itu *apa sih*
Pada dasarnya setiap tindakan kita di dunia ini selalu ada risikonya. Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya, pacaran pangkal kawin (atau putus), dst dst dst... Nggak terkecuali dengan friend zone-an. Yang saya maksud friend zone di sini adalah pertemanan/persahabatan antara lawan jenis (cowok dan cewek).
Kenapa saya bahas ini? Karena isu ini sudah jadi masalah klasik sejak saya remaja (walaupun sekarang juga masih remaja sih). Seakan-akan nggak pernah hilang dari masa ke masa. Selalu saja ada yang kekeuh merasa aman-aman aja dengan pertemanan ini, padahal secara statistik, kemungkinan "kepeleset" dalam hubungan pertemanan macam ini sangatlah tinggi.
Interested?? Simak analisis saya selanjutnya... hehehe...

Rabu, 09 September 2015

Tell no lie

Satu kebohongan akan diikuti oleh kebohongan lain. Berdasarkan pengalaman, teori itu benar adanya. Masuk akal, karena begitu kita menciptakan satu kebohongan, kita akan meng-create kebohongan lain untuk menutupi atau menyempurnakan kebohongan pertama. Karena itu bohong memang perlu kecerdasan untuk berimajinasi dan berimprovisasi. Jadi hanya orang cerdas yang bisa bohong. Tapi bohong itu pilihan.

Pilihan bahwa apakah kita akan menggunakan kecerdasan kita untuk berbohong atau nggak. Silahkan pilih berbohong, tapi seperti kata sebuah kutipan, "lie is a solution  for permanent problem" maka kebohongan tidak menyelesaikan masalah. Bohong adalah untuk para pengecut yang nggak berani menerima kenyataan. I totally understand because I've experience it myself. So, tell no lie. Jangan berkata bohong tentang sesuatu yang serius.

Ketika saya di posisi sebagai orang yang dibohongi, kebohongan itu buat saya adalah hinaan bagi kecerdasan saya. Apa saya kelihatan segitu bodoh untuk dibohongi? Selain itu, kebohongan juga akan menyakiti banyak orang. Butuh waktu lama untuk membangun suatu kepercayaan, tapi hanya butuh satu kebohongan untuk menghancurkan kepercayaan yang sudah dibangun itu. Hanya butuh satu kebohongan untuk membuat orang lain ragu dan mempertanyakan semua kejujuran kita. Hanya butuh satu kebohongan untuk membuat orang yang tadinya percaya menjaadi sakit hati. Ingat, hanya butuh satu kebohogan!

Percayalah bahwa dibohongi orang yang dipercaya itu jauh lebih sakit dari pada diputus pacar. Bukan karena bohongnya, tapi karena setelah kebohongan itu kita nggak akan bisa lagi percaya seperti dulu. Meski ingin sekali percaya tapi keraguan pasti akan ada. Kata maaf sebanyak apa pun nggak akan bisa merubah keadaan. Hanya waktu yang bisa mengembalikan kepercayaan. Dan itu bukan waktu yang sebentar. Seperti kata saya tadi, butuh waktu lama untuk membangun suatu kepercayaan, tapi hanya butuh satu kebohongan untuk menghancurkannya.

Tell no lie!

Selasa, 30 Juni 2015

My first job, my first leave

Alhamdulillah, akhirnya saya nulis lagi. Ternyata susah juga menjaga komitmen untuk tetap rajin ngeblog setelah kita sudah mulai punya rutinitas. Saat blog post terakhir saya diposting, saya memang masih bersatatus "pengacara" alias pengagguran banyak acara. Kevakuman saya pasca lulus kuliah membuat saya galau mau ngapain. Hari-hari saya dilalui dengan cari-cari pekerjaan (di depan komputer), memasak, gitaran, dan menulis. Setiap malam saya mikirin apa yang akan saya lakukan besok, jangan sampai saya nganggur. Gitu deh perasaan seorang jobless.

Tapi alhamdulillah nggak lama kemudian saya dapat pekerjaan pertama saya, yang bisa dibilang, saya dapat dengan nggak sengaja. Kenapa nggak sengaja? Saya awalnya melamar di sebuah konsultan manajemen. Setelah melalui tes macam-macam mulai tes detail angka dan huruf sampai akuntansi biaya yang totalnya makan waktu 4 jam (untung nggak ditambahin tes aura), akhirnya saya diberi tahu bahwa saya tidak akan bekerja di konsultan itu tapi di perusahaan klien. Nah loh...

Ternyata perusahaan yang dimaksud adalah Alea Grafika, sebuah perusahaan dagang alat dan bahan percetakan. Nggak lama setelah interview dengan user dan owner-nya, saya langsung mulai bekerja. Saya bekerja sebagai accounting dan internal audit membantu Ibu Asih, the one and only accountant in that office. Keren banget nggak sih bu Asih ini?

Minggu, 17 Mei 2015

Ebi Furai

Ebi Furai matang (kiri) dan mentah (kanan)
Ebi furai atau sering disebut juga ebi tempura adalah udang yang dilapisi tepung dan digoreng dengan cara deep fry alias tenggelam dalam minyak. Biasanya istilah itu dipakai di restoran-restoran Jepang. Kalau istilah kitanya sih udang goreng. Saya sendiri lebih senang menyebutnya ebi furai, biar berasa lebih mahal, hehehe..

Sebenarnya udang adalah hasil laut yang paling mudah diolah. Memasak udang nggak seribet memasak ikan kerapu atau kakap, misalnya. Tapi udang yang akan dimasak harus oke agar rasa masakannyaa bisa enak. Nggak fresh sedikit saja, udang udah nggak enak. Makanya saya nggak pernah suka frozen dimsum yang isi udang, karena rasa nggak fresh-nya sangat dominan. Euhh...

Saya sudah beberapa kali bikin ebi furai dan cukup sukses. Jadi, di sini saya akan sharing bikin ebi furai yang murah dan mudah, juga enak pastinya. Ini dia resepnya...

Selasa, 05 Mei 2015

Cari Cara atau Cari Alasan?

(Sumber: alexstechthoughts.com)
Waktu kuliah, setiap hari saya berangkat kuliah naik angkot. Dulu saat semester awal, hampir setiap hari jadwal kuliah saya dimulai pukul 7 pagi. Suatu hari saya telat karena angkotnya jalan lamaaa banget. Saya misuh-misuh saking sebalnya. Saya menyalahkan pak supir yang nggak mau cepat-cepat. Setelah sampai di kampus, saya mikir, ngapain juga saya buang-buang emosi nyumpahin si supir angkot? Kalau dipikir lagi, keterlambatan saya itu bukan salah supir. Saya kan sudah tahu kalau ingin sampai di kampus <= pukul 7, saya harus berangkat pukul 6, maksimal pukul 6.30. Pagi itu saya berangkat pukul 6.40 makanya saya ketinggalan angkot pertama dan kedua. Di jam-jam tanggung begitu, penumpang agak sepi jadi angkot jalannya lama, dan itu udah biasa. Jadi kenapa saya malah marah-marah kalau angkotmya jalan pelan-pelan? Wah.. ternyata saya hanya mencari alasan untuk menutupi kesalahan saya yang sebenarnya yaitu berangkat terlambat.

Coba deh, saat ujian semester, berapa banyak dari kita yang sering nyalah-nyalahin soal ujian yang terlalu sulit kalau kita nggak bisa mengerjakannya. Bahkan ada yang menyalahkan dosennya karena merasa nggak pernah diajari materi itu. Apa anak kuliah harus diperlakukan sama seperti anak TK yang semua-semua harus diajari satu per satu? Apa nggak ada silabus perkuliahan? Apa nggak ada literatur yang bisa dipelajari? Apa nggak ada perpus yang bisa minjamin kita buku kalau kita nggak punya? Dan... apa nggak ada internet untuk browsing? Lihat betapa banyak cara terpampang nyata di depan kita, tapi kita malah memilih cari alasan dari pada cari cara. Kenapa begitu? Karena cari alasan lebih mudah dari pada cari cara. Nyalahin orang lain jauh lebih mudah dari pada mengakui kekurangan diri.

Sabtu, 02 Mei 2015

Nilai Waktu Uang

Mata kuliah MK atau Manajemen Keuangan dan ALK atau Analisis Laporan Keuangan bukanlah mata kuliah favorit saya saat kuliah. Saya nggak mau menyalahkan mata kuliahnya yang susah apalagi dosennya yang boring. Saya aja yang sering ketiduran di kelas. Padahal mata kuliah itu mau nggak mau harus ditempuh dan lebih dari itu, harus dipahami kalau memang kita ingin melanjutkan di bidang Akuntansi. Dalam mata kuliah itu kita akan sering berurusan dengan nilai waktu uang (time value of money). Nah, dari pada berlama-lama nggak mudheng seperti saya, lebih baik dimengerti sekarang. Semoga penjelasan saya membantu. Cekidot...

Apa itu nilai waktu uang? Dalam teori keuangan yang berlaku sekarang, kita mengenal konsep nilai waktu uang ini. Jadi uang itu berbeda nilainya sekarang dan nanti. Perbedaan ini didapat dari bunga (interest bukan flower, hehehe..) Misalnya, kalau Harry Potter punya uang 10.000 dan mendapat bunga 10% per tahun, maka setahun kemudian nilai uang Harry Potter menjadi 11.000. Berarti nilai uang 10.000 Harry Potter sekarang sama dengan 11.000 kalau uang itu diperoleh tahun depan. Nilai 11.000 ini adalah nilai masa depan (future value) dari uang 10.000-nya Harry Potter. Dan nilai 10.000 adalah nilai sekarang (present value) dari nilai masa depan 11.000.

Biar lebih jelas, silahkan simak ilustrasi berikut....

Jumat, 01 Mei 2015

Muffin Cokelat (Muffin VS Cupcake)

Sudah lama saya kepingin bikin sesuatu yang dipanggang dengan oven. Saya pengen kayak Baker King Kim Tak Goo, hahaha... Apa daya, saya nggak punya oven. Pernah sekali saya bikin kue sus menggunakan panci oven (panci pengganti oven) dan membuat cake pisang menggunakan rice cooker. Tapi kalau belum pakai oven, kok sepertinya belum benar-benar baking namanya, hehe...

Akhirnya kesempatan emas untuk belajar bikin kue panggang datang juga. Kemarin saya berkunjung ke rumah nenek di Prajekan, Bondowoso. Kebetulan di sana ada tante saya yang doyan bikin kue. Bisa dibilang tante saya itu pembuat kue semi-pro. Kesempatan itu pun nggak saya sia-siakan, sebelum datang saya udah request kepingin membuat kue di sana sekaligus pinjam semua tools nya. Setelah penuh pertimbangan kue apa yang akan saya buat di praktik perdana saya ini, saya lalu menjatuhkan pilihan pada muffin. Muffin, bukan cupcake.

Selasa, 28 April 2015

Aku mah apah atuh... (pengalaman assessment test Big Four)

Anak Akuntansi mana yang nggak tahu the Big Four Accounting Firm? Kalau ada, pasti anak Akuntansi kudet alias kurang update. Kantor Akuntan Publik (KAP) 4 besar dunia ini adalah PricewaterhouseCooper, Deloitte Touche Tohmatsu, Ernst & Young, dan KPMG. Keempat KAP ini ada semua di Indonesia. Nah, kemarin untuk pertama kalinya saya mengikuti tes tertulis salah satu Big Four yaitu Deloitte.

Saya pertama kali tahu tentang Big Four ini dari buku pelajaran SMA, dan sejak saat itu saya memendam impian ingin berkarir di salah satu KAP itu. Demi mewujudkan impian itu, sejak awal semester tujuh saya sudah rajin browsing membuka website karir dari masing-masing KAP itu. Dan begitu saya dinyatakan lulus, saya segera memasukkan online application ke KAP yang saya tuju, yaitu PwC (PricewaterhouseCooper) dan EY (Ernst & Young) lalu berharap suatu saat saya akan dapat panggilan, walau saya sadar chance nya sangat kecil. But, to make dream comes true, every chance is worth trying.